Terkait Bandung Kota Termacet di Indonesia, Wali Kota Bandung Buka Pintu Kolaborasi dengan TomTom
Terkait Bandung Kota Termacet di Indonesia, Wali Kota Bandung Buka Pintu Kolaborasi dengan TomTom
Aphnews.bs.com-Bandung,10/07/2025
Wali Kota Bandung M. Farhan. (Foto: Pemkot Bandung)
Halobdg – Kini sedang ramai di jagat maya tentang laporan TomTom Traffic Index yang menempatkan Bandung sebagai kota termacet di Indonesia. Menanggapi hal ini, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan kesiapan pemerintah kota untuk berkolaborasi dengan penyedia data lalu lintas global tersebut.
TomTom merupakan perusahaan teknologi asal Belanda yang dikenal dengan pemetaan dan analisis lalu lintas. Mereka mencatat bahwa rata-rata waktu tempuh perjalanan sejauh 10 kilometer di Bandung mencapai 33 menit. Sehingga menempatkan Bandung sebagai kota termacet di antara kota-kota besar Indonesia.
“Saya baru pertama kali mendengar nama lembaga ini, tapi saya menyambut positif data yang mereka sajikan. Jika memang TomTom merupakan lembaga internasional yang kredibel, saya ingin mengundang mereka datang ke Bandung untuk mempresentasikan hasil riset mereka secara langsung,” ujar Farhan dalam siaran pers Pemkot Bandung.
Pendekatan Berbasis Data
Farhan menegaskan bahwa persoalan kemacetan di Bandung tidak bisa diselesaikan hanya dengan asumsi, melainkan harus berbasis data yang akurat dan menyeluruh. Ia menyebut hingga kini Pemkot Bandung masih mencoba menelusuri kontak resmi TomTom untuk menjajaki kerja sama lebih lanjut.
“Kalau data itu bisa jadi semacam biodata mobilitas warga, tentu akan sangat berguna untuk pengambilan kebijakan transportasi yang lebih tepat sasaran,” tuturnya.
Pemkot sendiri telah memiliki sejumlah data awal terkait titik-titik kemacetan parah di Bandung. Jalan Soekarno-Hatta, misalnya, disebut sebagai kawasan dengan tingkat kepadatan tertinggi. Karena menjadi pintu masuk utama dari arah barat, selatan, dan timur kota.
“Pagi hari mulai padat sejak pukul 6 hingga 10, kemudian sore kembali macet mulai pukul 4 hingga 8 malam. Ini sudah jadi pola harian,” kata Farhan.
Sementara itu, ruas jalan ke arah utara seperti Jalan Ir. H. Juanda, Sukajadi, dan Setiabudi menunjukkan pola kemacetan yang berbeda. Ketiganya relatif lancar di pagi hari, namun padat di sore hingga malam.
“Ini menunjukkan ada karakteristik mobilitas warga Bandung yang unik, tapi kita belum punya data lengkap untuk menjelaskan sepenuhnya,” imbuhnya.
Arahkan Kolaborasi pada Solusi Digital
Lebih lanjut, Farhan menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam pengembangan solusi berbasis teknologi. Ia membuka kemungkinan penerapan sistem digital seperti big data dan bahkan blockchain untuk manajemen lalu lintas.
“Kita butuh peta mobilitas yang real-time dan akurat. Jika memungkinkan, Bandung bisa jadi kota percontohan dalam penggunaan teknologi transportasi berbasis data. TomTom bisa menjadi mitra strategis dalam hal ini,” ujar Farhan.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan terbuka bagi TomTom dan penyedia data lainnya untuk menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah Kota Bandung.
“Sudah saatnya Bandung terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama, khususnya dalam transformasi digital. Tujuannya satu, meningkatkan kualitas hidup warga melalui transportasi yang lebih efisien,” pungkasnya.**(Tim)
Sumber & Foto: Pemkot Bandung
Komentar
Posting Komentar